Rabu, 23 April 2014
next next next
Senin, 04 April 2011 — 02:46:15 WIB

Harga Jagung di Sukabumi Saingi Harga Gabah


Ilustrasi

Sukabumi, SENTANAONLINE.com - Harga Jagung di Kabupaten Sukabumi terus melonjak, bahkan mampu menyaingi harga Gabah Kering Giling (GKG) sekitar Rp 3.300,- hingga Rp 3.500,- per kg. Namun demikian, tingginya harga komoditas jagung jenis hybrid dan pionir tersebut, tidak diimbangi dengan tingginya produksi jagung pada Musim Tanam (MT) saat ini.

Menurut sejumlah petani di wilayah Kecamatan Sagaranten, Cidolog, Jampang Tengah, Lengkong, Nyalindung Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, yang ditemui SENTANA Minggu kemarin (3/4) disela-sela para petani sedang memanen tanaman jagungnya.

Harga jagung ditingkat petani kini sudah menyaingi harga gabah. Padahal, biasanya harga jagung jauh di bawah harga gabah kering giling, perbandingannya bisa mencapai Rp 1.000,- per kg, ucap H. Zaenal Arifin salah seorang tokoh petani di Kabupaten Sukabumi.

Pada musim panen raya sekarang ini, harga gabah hamper kalah oleh jagung. Betapa tidak, harga jagung pipil kering berkisar antara Rp 3.100,- sampai Rp 3.200,- per kg. Sedangkan harga Gabah Kering Giling (GKG) sekitar Rp 3.300,- hingga Rp 3.500,- per kg.

Dari hasil pemantauan SENTANA di lapangan, harga jagung pipil kering berkisar antara Rp 3.100,- sampai Rp 3.200,- per kg, itu harga ditingkat petani. Sedangkan harga ditingkat penjual (tengkulak) itu harganya bisa mencapai Rp 3.600,- sampai Rp 3.750,- per kg. Sehingga, para tengkulak dari kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta, banyak yang mendatangi areal-areal pertanian kawasan jagung di wilayah Selatan Kabupaten Sukabumi.

Ketika ditanya, Zaenal Arifin yang dikenal sukses sebagai petani dan grosir bermacam-macam hasil bumi menjelaskan, sangat wajar para tengkulak dari kota-kota besar menyerbu daerah sentra pertanian jagung di wilayah Selatan Kabupaten Sukabumi, mengingat kelangkaannya sentra-sentra tanaman jagung di Kabupaten yang ada di wilayah Jawa Barat. Sentra tanaman jagung tersebut, kata Arifin, itu berada di Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut.

Dijelaskannya, pipilan jagung kering tersebut, itu untuk kebutuhan campuran pakan ayam pedaging dan petelur. Untuk kebutuhan jagung kering di Kabupaten/ Kota Sukabumi untuk campuran pakan ayam pedaging dan petelur, itu dibutuhkan sekitar 10 ton sampai 12 ton per hari. Maka, untuk menutupi kekurangan jagung kering di Kabupaten/ Kota Sukabumi, terpaksa harus mendatangkan jagung dari daerah Provinsi Jawa Tengah.

Diakui Arifin, dengan naiknya harga jagung tersebut, kini menyebabkan para petani merasa menyesal tidak menanam palawija, terutama jagung dengan jumlah yang lebih besar dan luas. Hal itu karena biasanya harga jagung tidak pernah mencapai Rp 3.100,- sampai Rp 3.300 ,- per kg yang hampir menyamai harga gabah.

Dalam waktu terpisah, Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Sukabumi, Ir. Asep Sugianto, MM ketika dihubungi membenarkan harga jagung akan menyaingi harga gabah. Hal itu terjadi, kata Asep, harga jagung kering ditingkat Bandar bisa mencapai Rp 3.300,- sampai Rp 3.500,- per kg. Harga tersebut, tanpa mempertimbangkan kadar air yang ada. Dengan melonjaknya harga jagung yang tidak disangka-sangka oleh para petani, sehingga banyak para petani yang menyesal tidak memperluas tanaman jagung.

Menurut dia, produksi jagung pada musim tanam kali ini tidak sebaik tahun sebelumnya, termasuk luas areal tanaman jagung. Kurangnya produksi dan luasnya areal tanaman jagung, akibat kondisi pembuahan yang kurang baik, ukurannya lebih kecil dari biasanya serta bagian ujung sedikit membusuk, demikian juga bagian batangnya. Hal itu terjadi, kata Asep akibat curah hujan yang terlalu tinggi.

Dari setiap hektar tanaman jagung, yang biasanya bisa mencapai sekitar 6 ton kini paling bisa diproduksi antara 4 ton sampai 5 ton per hektar. Dua tahun lalu, produksi jagung di Kabupaten Sukabumi sangat bagus karena kondisi biji dan bonggol besar. Sedangkan  pada tahun 2010 lalu tanaman jagung di Kabupaten Sukabumi mulai terkena serangan hama, musim tanam sekarang bonggol relative lebih kecil belum lagi serangan ulat dan busuk di bagian ujung, sehingga produksi pun kurang baik. (GYF)

0 Comments

Silahkan Login untuk Memberi Komentar Anda
BACA JUGA :
clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil