Rabu, 23 April 2014
next next next
Rabu, 26 Januari 2011 — 12:06:50 WIB

Akibat Kemiskinan Jutaan Anak Indonesia Kekurangan Gizi


Jakarta, SENTANAONLINE.com - Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih mengungkapkan, masalah kekurangan dan kelebihan gizi menjadi ancaman bagi jutaan anak Indonesia.

“Anak dari kelompok miskin alami gizi kronis yang berakibat buruk pada pertumbuhannya. Sedangkan anak dengan gizi lebih (gemuk-gemuk) rentan juga terhadap ancaman kesehatan karena kurang berimbangnya asupan gizi, Jadi fenomena gizi lebih merupakan ancaman serius karena terjadi di berbagai strata ekonomi,pendidikan, desa-kota dan lain sebagainya,” kata Menteri di kantornya, Selasa (25/1) pada acara Hari Gizi Nasional yang dirangkai diskusi gizi.

Menurutnya, riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, 14% Balita termasuk gizi lebih, dimana besarannya hampir sama dengan Balita kurus (keluarga miskin-Red). “Ada sekitar 3,7 juta anak Indonesia kekurangan gizi, dan karena masalah gizi kronis sekitar 35,7% anak-anak Indonesia tergolong pendek," ujarnya menambahkan.

Dikatakan, gizi buruk tidak hanya berhubungan dengan penyakit tetapi juga berdampak pada pertumbuhan tinggi badan. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 mencatat 35,7% anak Indonesia tergolong pendek akibat masalah gizi kronis. “Dengan persentase sebesar itu diperkirakan ada 7,3 juta anak Indonesia yang jadi pendek,” katanya.

Ia menambahkan, tinggi badan seseorang berhubungan dengan masalah gizi kronis. Jika satu generasi kurang gizi, dampaknya pada tinggi badan mungkin baru akan dirasakan generasi berikutnya. “Karena merupakan masalah kronis, maka pengatasan masalah gizi buruk dan pengaruhnya terhadap tinggi badan harus dilakukan secara komprehensif atau menyeluruh. Di antaranya melalui perbaikan gizi ibu hamil atau antenatal care,” paparnya.

Masih menurut Menkes, angka gizi buruk pada balita sendiri mengalami perbaikan dari 31% pada tahun 1990 menjadi 17,9% pada 2011. “Namun angka itu belum istimewa karena berarti masih ada 3,7 juta balita yang kurang gizi. Kita targetkan pada tahun 2015 angka itu bisa terus ditekan menjadi 15% saja,” tukasnya.

Dijelaskannya, meski angka gizi buruk tinggi, di sisi lain balita dengan gizi berlebih hampir sama banyak dengan balita gizi buruk yakni 14%. Menariknya, gizi berlebih tidak berhubungan dengan status ekonomi karena persentasenya pada keluarga termiskin adalah 13,7 persen sementara dikeluarga terkaya tidak jauh berbeda, yakni 14%.

Masalah gizi lainnya yang sedang dihadapi adalah obesitas yang dialami oleh 15 persen orang dewasa berusia 15 tahun ke atas. Menurut Menkes, obesitas yang berhubungan dengan masalah metabolisme jumlahnya meningkat akibat perubahan gaya hidup dan kondisi lingkungan.

Tantangan Semuanya

Menkes mengatakan, masalah gizi di tanah air yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat bukanlah hanya domain kesehatan saja. "Melainkan seluruh Institusi, pemerintah maupun swasta yang berkaitan dengan pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia)," ujarnya. Bangsa ini katanya melanjutkan, masih akan menghadapi masalah-masalah gizi kurang terutama yang kronis dan akut pada beberapa kelompok masyarakat, disisi lain juga harus segera memerangi masalah gizi lebih sebagai salah satu faktor risiko utama penyeakit degeneratif.

Untuk mengatasinya, Kementerian Kesehatan menerapkan 3 strategi termasuk peningkatan mutu konsumsi lewat program fortifikasi (penambahan gizi) pangan. Pada kesempatan itu Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih secara resmi meluncurkan produk suplemen tabur yang dinamakan Taburia. Suplemen ini merupakan bentuk fortifikasi atau penambahan gizi pada makanan di level rumah tangga.

Dengan kandungan 12 vitamin dan 4 mineral penting yakni yodium, selenium, seng dan zat besi, Taburia diharapkan bisa membantu masa tumbuh kembang anak terutama di usia 6-24 bulan. Kelebihannya adalah tidak mengubah rasa atau warna makanan, sehingga tidak mempengaruhi nafsu makan anak.

"Fortifikasi dan suplementasi termasuk dalam upaya preventif dalam mengatasi gizi buruk. Selain lewat Taburia, fortifikasi juga dilakukan lewat minyak goreng yang akan diperkaya dengan vitamin A dan juga pemberian suplemen zat besi untuk ibu hamil," ungkap Menkes. Upaya lain yang akan dilakukan oleh Menkes adalah upaya promotif, melalui pemberdayaan dan pendidikan gizi. Upaya ini dilakukan antara lain melalui peningkatan pengetahuan ibu-ibu dan anak sekolah tentang pentingnya gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif dan penimbangan berat badan balita. 

Sebagai upaya kuratif bagi yang sudah terkena dampak gizi buruk, Menkes berjanji akan meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan. Selain dilakukan di Rumah Sakit dan Puskeskmas, upaya perbaikan gizi bagi yang sudah terkena dampak juga dilakukan dengan melibatkan basis-basis komunitas masyarakat.

"Ketiga upaya yakni promotif, preventif dan kuratif tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan semua pihak, termasuk Kementerian Pertanian untuk yang berhubungan dengan pangan," tambah Menkes. (BET)

0 Comments

Silahkan Login untuk Memberi Komentar Anda
clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil