Jumat, 18 April 2014
next next next
Sabtu, 29 Januari 2011 — 01:29:50 WIB

Pendekatan OVOP di 100 Titik Seluruh Indonesia

2014 Produk Unggulan Lokal Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Menkop dan UKM Syarief Hasan secara simbolis menanam bibit jeruk kalamansi sebagai  produk unggulan Provinsi Bengkulu melalui pendekatan OVOP

Jakarta, SENTANAONLINE.com - Kementerian Koperasi dan UKM RI memperluas produk unggulan daerah yang lazim disebut OVOP - One Village One Product--satu desa dengan satu produk unggulan, bahkan lebih satu produk di 100 titik di 33 provinsi berbasiskan peningkatan mutu dan daya saing agar produk unggulan itu bernilai tambah melalui industri pengolahan/procsesing (value chain), pengepakan, perluasan jaringan pemasaran secara integrasi dan lain-lain hingga tahun 2014.

"Produk unggulan lokal menjadi tuan di negeri sendiri tetapi mendunia, ya harus dipacu berbasiskan mutu dan daya saing. Itu bisa yang melalui proses industri pengolahan/procesing (value chain) di dekat wilayah basis usaha seperti produk unggulan agro-industri pertanian, perkebunan, atau produk unggulan lainnya seperti objek pariwisata dengan agrowisata, pagelaran budaya/peradaban dan kerajinan berbasis budaya tradisional melalui pendekatan OVOP. Artinya bagaimana produk unggulan itu dikemas rapi untuk peningkatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat setempat dan jadi unggulan ekonomi dan kebanggaan nasional juga," ujar Menkop dan UKM, Syarief Hasan kepada wartawan belum lama ini.    

Lebih jauh dikatakannya, tujuan pengembangan OVOP yang memiliki produk/komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi pemasaran lokal maupun internasional (go global) yang berbasis kualitas serta nilai tambah produk agar mampu bersaing dengan produk luar negeri (impor). "Khusus kegiatan OVOP yang dilakukan oleh Kemenkop dan UKM harus melalui wadah koperasi," tambahnya.

Deputi Bidang Pengkajian Sumber Daya Usaha KUMKM (Koperasi, Usaha Mikro,Kecil dan Menengah) Kemenkop dan KM, I Wayan Dipta menjelaskan, sebagai payung hukum dalam pengembangan OVOP tersebut antara lain UU No.25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, UU No.20 tahun 2008 tentang UKM, Inpres No.6 tahun 2007 tentang Percepatan Sektor Riil dan Pembangunan Sektor UMKM yang juga mengamanatkan pengembangan sentra melalui pendekatan OVOP.

Disambut dan diperkuat hasil keputusan Rapat Kerja Kemenkop dan UKM dengan Komisi VI DPR-RI agar kegiatan OVOP dapat dikembangkan di provinsi lain. "Karena itulah telah ditetapkan tonggak pencapaian atau "key development milestone untuk periode 2010-2014 dengan 100 titik OVOP," ujarnya menambahkan.

Dikatakan, langkah tahun 2011-2012 meliputi peningkatan nilai tambah produk unggulan melaui industri pengolahan melalui dukungan sarana prosesing. Peningkatan akses pasar produk yang dihasilkan melalui temu usaha (business matching) serta desain, paking dan promosi produk lokal, nasional maupun internasional. Kemudian peningkatan suplai chain product unggulan OVOP melalui produk dan pemasaran. Serta pengembangan kapasitas SDM melalui pendampingan,penyuluhan,pelatihan dan studi banding.

Di tahun 2013-2014, peningkatan dan perluasan pendampingan komunitas masyarakat lokal sesuai dengan potensi ekonomi daerah. Terus diperkuat dan ditingkatkan lagi nilai tambah produk melalui industri pengolahan dan paking. Peningkatan promosi ekonomi masyarakat secara menyeluruh (budaya, produk dan potensi alam) di tingkat provinsi serta promosi produk unggulan OVOP secara nasional dan internasional (fairs and events, festival).

Lokal Tapi Global

Menkop dan UKM mengatakan, pengembangan OVOP bertujuan untuk meningkatkan, mengembangkan dan memasarkan satu produk yang bisa menjadi sumber kebanggaan masyarakat setempat. "Terutama yang bisa dipasarkan baik di dalam maupun di luar negeri. Sehingga tercapai tujuan "Lokal tapi Global", ujarnya. Sebagai penghela gerakan OVOP tersebut katanya adalah masyarakat setempat.

Agar mampu mandiri, masyarakat harus mampu bangkit dan kreatif. "Pemda harus menyadari dan mampu mendorong sumberdaya manusia yang kreatif dan inovatif. Mampu melakukan terobosan baru di sektor pertanian, industri, pariwisata, jasa serta pemasaran produknya.Sehingga meningkatkan kualitas, produktivitas dan daya saing," paparnya.

I Wayan Dipta menguraikan, kriteria produk OVOP itu meliputi unggulan daerah yang telah dikembangkan secara turun-temurun, merupakan produk khas daerah setempat, memiliki penampilan dan kualitas produk yang sesuai dengan tuntutan pasar, memiliki peluang pasar yang luas, baik domestik maupun internasional, memiliki nilai ekonomi tinggi serta bisa menjadi penghela bagi peronomian daerah.

"Berpatokan pada pelaksanaan OVOP tahun 2010 dimana peran instansi terkait cukup baik meski memang masih ada tantangan dan kendala yang bisa diselesaikan karena memang membutuhkan/memerlukan komitmen dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat setempat seperti perkuatan koordinasi antara lintas pelaku, perlu terus ditingkatkan kesadaran masyarakat akan potensi ekonomi yang ada di daerahnya termasuk masih perlunya ditingkatkan dukungan dana pemerintah pusat maupun daerah,” paparnya.  

Ia mengatakan, peran yang dilaksanan instansi seperti Kemenkop dan KM antara lain pekuatan sarana demplot, kelembagaan koperasi OVOP--penguatan kelompok, pendampingan teknis lapangan dan lain-lain. Kemudian peran Dinas Koperasi Provinsi meliputi studi banding ke provinsi, temu usaha dengan calon pembeli dan pameran, serta peran Dinas Koperasi Kabupaten meliputi perkuatan kelembagaan koperasi, pendampingan teknis budidaya, teknis desain paking dan pemasaran, teknologi pengolahan/prosessing paska panen serta pengadaan sarana produksi pertanian (benih, obat-obatan,sarana pengairan).

“Peran tersebut mendorong keberhasilan Koperasi Mitra Tani Parahyangan,Cianjur dengan komoditas sayur-mayur dan beras Cianjur. Kemudian disusul Koperasi Unit Desa Cisurupan, Garut dengan komoditas hortikultura unggulan (paprika,tomat cherry dan lain-lain). Hal yang sama diraih Koperasi Tani Methanadi, Badung Bali dengan komoditas hortikultura (sayur-mayur dan buah-buahan dataran tinggi)," ujarnya.

Ditambahkan, Kemenkop dan UKM telah menerima data produk unggulan  dari 22 Kabupaten dan Kota di 14 provinsi. Provinsi Sumbar (Kota Bukit Tinggi-bordir kerancang dan Kab Tanah Datar--tenun pandai sikek).Sumsel (Kota Prabumulih--nanas), Bengkulu (Kota Bengkulu--jeruk kalamansi), Bangka Belitung (Bangka--kerupuk kemplang, Bangka Barat--tenun cual), Jawa Barat (Tasik Malaya--bordir, Bandung--strawberry, Karawang--jamur), Jatim (Pacitan--batik), Bali (Gianyar—rebung tabah, Tabanan--keramik/grabah, Klungkung--tenun cagcag),  Kalteng (Kota Waringin Timur--sarang burung walet), Sulsel (Tana Toraja--kopi, Palopo--coklat, Tana Toraja Utara--tenun marendeng), Sultra (Wakatobi--rumput laut), Sulawesi Tengah (Kota Palu--bawang goreng), Maluku (Buru--minyak kayu putih), Papua Barat (Teluk Bintuni--gaharu, minyak astiri), Lampung (Lampung Barat--kopi). (BET)

0 Comments

Silahkan Login untuk Memberi Komentar Anda
BACA JUGA :
clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil