Kamis, 17 April 2014
next next next
Selasa, 14 Februari 2012 — 07:04:13 WIB

Ipal Tak Maksimal, Industri Penyamakan Kulit Hasilkan 1,97 Juta M3 Limbah B3

 

 

Garut, SENTANAonline.com

SEDIKITNYA 6.000 meter kubik Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) perhari yang dihasilkan dari kawasan industri penyamakan kulit Sukaregang Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Hal ini disebabkan, kurang optimalnya pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan tersebut  mengakibatkan ancaman terjadinya pencemaran dilingkungan masyarakat disekitar kawasan industri kulit Sukaregang.

Menurut Drs. Mlenik Maumeriadi, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kab. Garut,  limbah beracun B3 yang dihasilkan selama ini di kawasan industri kulit Sukaregang bisa saja diakibatkan kesadaran para pengusaha kulit dalam pengelolaan limbah terutama IPAL.

“Selama setahun dari limbah B3 ini bisa mencapai 1,97 juta meter kubik di kawasan Kulit Sukaregang, karena masih saja  sejumlah pengusaha yang tidak memperhatikan aspek lingkungan terhadap pengelolaan IPAL,” katanya kepada Sentana, (13/2).

Ia mengungkapkan, sebab lainnya, para pengusaha penyamakan kulit dikawasan tersebut  merasa pengelolaan IPAL dinilai masih berat dan memerlukan biaya yang cukup tinggi. Sehingga lahan IPAL yang seharusnya sebagai salah satu syarat tak mampu disediakan oleh para pengusaha sendiri.

“Pengelolaan limbah cair melalui IPAL dibutuhkan anggaran sebesar Rp. 6 juta pertahun/perusahaan atau sedikitnya Rp. 500 ribu biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan per bulannya. Sementara, jumlah pengusaha penyamakan kulit di kawasan Sukaregang mencapai 300 perusahaan yang menghasilkan 3 ton perbulan kebutuhan kulit,” tandas Mlenik.

Meski demikian, pihak pemerintah daerah mengakui adanya keterbatasan dalam penyediaan fasilitas pengelolaan limbah cair IPAL, dikarenakan para pengusaha kulit di kawasan itu belium bisa melepaskan ketergantungan  operasinalnya terhadap pemerintah sendiri. Bahkan, kata Mlenik, sejumlah aset pemerintah yang telah disediakan banyak berubah fungsi dari para pengusaha. IPAL yang dibangun oleh pemerintah dijadikan kolam ikan.

“Kita sudah acapkali menghimbau para pengusaha kulit untuk menyediakan sarana infrastruktur IPAL di masing masing pabrik, namun mereka sering tak merespon hal itu,” tegasnya.

Sementara itu, dtempat terpisah, Zacky Sirod selaku Ketua Asosiasi Pengrajin Kulit Sukaregang (APKUGA) menyatakan, selama ini pemerintah belum secara optimal melakukan pembinaan atau pelatihan bagi ratusan  perajin kulit di kawasan industri  Sukaregang.

Dimana, jumlah kunjungan konsumen setiap tahunnya selalu meningkat berkunjung ke kawsan Sentra Industri. Dari catatan yang ada, kata Zakcy, sebanyak 312 kelompok pengrajin kulit yang tergabung dalam APKUGA dan sekitar 600 orang usaha kecil pengrajin kulit. “Dalam satu bulan saja bisa menghasilkan 1000 pieces produk jaket kulit yang diekspor ke mancanegara seperti,  Singapura, Malaysia, Timur Tengah  serta ke Italia,” ucap Zacky.

Oleh karena itu, jika pemerintah daerah tidak serius melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap para pengrajin kulit, dikhawatirkan produk kulit asli kawasan Sukaregang kab. Garut khususnya jaket kulit yang menjadi Trade Mark diambil alih oleh daerah lain yang juga menghasilkan produk yang sama dan ini jelas merugikan  kabupaten Garut sendiri, pungkasnya. (YUS)

0 Comments

Silahkan Login untuk Memberi Komentar Anda
BACA JUGA :
clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil