Kamis, 24 April 2014
next next next
Kamis, 19 Juli 2012 — 11:02:15 WIB

RSUD Pematang Siantar Kukuh Rubuhkan Bangunan Bersejarah

Pematangsiantar,SENTANAOnLine.com-- Warga Pematang Siantar, harus rela kehilangan identitas diri, jika rencana penghancuran rumah dinas dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Djasamen Saragih, jadi dilaksanakan oleh pemerintah kota Pematang Siantar demi untuk mendirikan bangunan baru di atas lahan tersebut,

BERDALIH untuk kenyamanan pegawai RSUD serta upaya dirinya yang memperjuangkan untuk mendapatkan kucuran dana dari Kementerian Perumahan Rakyat akibat keterbatasan APBD kota Pematang Siantar, Kepala RSUD Djasamen Saragih, Ria Telaumbenua, bersikukuh akan merubuhkan bangunan yang telah berusia 100 tahun lebih serta memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kota Pematang Siantar.

“Dana pembangunan nya kan mahal, Anggaran APBD sangat terbatas. Kita maklum itu. Jadi harus berjuang ke pusat," dalih Ria melalui pesan singkatnya kepada SentanaOnLine, Kamis, (19/072012)

Jadi mohon utk didoakan bukan dipersulit dan hanya negatif thinking. Kita sudah fikirkan matang-matang, dan semua ini hal yang sangat positif.  Jika ditunggu dari APBD, kita mungkin akan menunggu bertahun-tahun lamanya. Perjuangan menembus ini ke Menpera perlu disyukuri, lanjut Ria berdalih.

Bahkan Ria menolak jika bangunan yang berdiri perumahan pegawai RSUD yang sekarang memiliki sejarah “Yang mana bersejarah dan bersejarah  apa?, fungsinya apa saat ini kalau bersejarah?” kata Ria menolak peranan bangunan tua itu dalam sejarah perjalanan kota yang saat ini dipimpin Hulman Sitorus.

Untuk memuluskan rencananya, Ria pun mengirimkan surat  perintah pengosongan kepada penghuni rumah dinas tersebut dan memberi batas waktu hingga tanggal 13 Agustus 2012, persis 4 hari sebelum peringatan ke-67 tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Anehnya, kepada SentanaOnLine, Ria Telaumbanua, mengatakan di atas lahan tersebut akan dibangun sebanyak 80 unit rumah berlantai 6, namun dari surat  perintah pengosongan rumah yang dikirimkan pihak RSUD serta ditandatangani Ria Telaumbanua, kepada penghuni rumah, tertulis jika di atas lahan tersebut akan didirikan bangunan berlantai 3 bukan berlantai 6.

Di tempat terpisah Humas Kemenpera, Jepri, yang mewakili Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz, mengatakan permasalahan itu merupakan urusan Pemerintah Daerah. “Kemenpera hanya sebatas kebijakan. Artinya,  pihak Pemda menyediakan lahan, dengan catatan tidak ada masalah, maka Kemenpera akan menindaklanjutinya.  Jadi Kemenpera tidak tahu menahu tentang hal itu,” tegasnya di ruang kerjanya ketika dikonfirmasi SentanaOnLine, Kamis, (19/07/2012)

Apalagi jika lahan dan perumahan dokter tersebut  merupakan warisan budaya, sudah jelas bukan urusan Kemenpera. “Jadi ditanyakan saja kepada pemerintah daerahnya. Karena setiap pembangunan kan ada masalah perizinannya, yang lebih tahu adalah  Pemda setempat,” katanya.

Sementara itu, dari berbagai informasi yang dihimpun SentanaOnLine, saat ini para perantau yang berasal dari Pematang Siantar, akan melakukan aksi penolakan terhadap rencana pemerintah kota Pematang Siantar merubuhkan bangunan yang telah berusia 100 tahun lebih itu dengan membentuk Forum Masyarakat Peduli Kota Pematang Siantar.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Walikota Pematang Siantar masih belum dapat dihubungi.

Penulis: Pahala Simanjuntak/Pangihutan Simatupang.

clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil