Rabu, 23 April 2014
next next next
Senin, 21 Februari 2011 — 07:09:20 WIB

Kondisi DAS Ciliwung Tercemar Berat

Kondisi DAS Ciliwung yang tercemar berat oleh berbagai limbah dan diperparah oleh pemukiman di sisi aliran DAS Ciliwung (wordpress)

Bogor, SENTANAONLINE.com - Kebiasaan warga sekitar bantaran kali yang masih membuang sampah serta limbah rumah tangga termasuk tinja, membuat kondisi daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung dan beberapa sungai lainnya di wilayah Kota Bogor tercemar berat. Bahkan, dikhawatirkan akan terjadi krisis air bersih pada dua atau tiga tahun yang akan datang jika kebiasaan tersebut tidak juga hilangkan.

Pantauan SENTANA di beberapa titik aliran DAS Ciliwung dan DAS Cisadane di wilayah Kota Bogor, Minggu (20/2) menunjukkan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tersebut masih memanfaatkan sungai sebagai tempat sampah. Mulai dari limbah deterjen cucian, sampah rumah tangga, hingga tinja masuk ke dalam aliran sungai tersebut.

Warga di sekitar bantaran sungai mengaku tidak mempunyai pilihan lain selain menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Keterbatasan ekonomi serta kepadatan penduduk yang tinggal di wilayah bantaran sungai dijadikan alasan masyarakat untuk menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa.Di sejumlah wilayah, misalnya di daerah Cibadak Tanah Sareal, Sukasari, serta sekitar Pasar Anyar, masyarakat sengaja memasang saluran pembuangan dari pipa paralon besar langsung dari rumah mereka ke sungai. "Segala sampah masuk ke situ, termasuk kotoran manusia. Habis mau bikin septitank di mana lagi," kata salah seorang warga Cibadak, Tanah Sareal, Udin (30).

Bahkan, di beberapa titik terlihat bilik yang dijadikan tempat buang hajat sebagian warga yang tinggal tepat di bantaran kali. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar, Iwan Wangsaatmadja mengakui jika pencemaran sejumlah DAS di wilayah Jabar telah mencapai taraf berat, misalnya DAS Ciliwung dan DAS Cisadane. Mayoritas pencemaran diakibatkan oleh sampah rumah tangga masyarakat yang tinggal di bantaran kali. Hanya saja, pemerintah daerah masih kesulitan memberikan sosialisasi agar masyarakat mengubah perilaku masyarakat tersebut.

"Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC," kata Iwan. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata dia juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. "Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai," lanjutnya.

Berdasarkan data yang dirilis BPLH Kota Bogor, penelitian pada tahun 2010 menunjukkan limbah domestik atau limbah rumah tangga mendominasi pencemaran Sungai Cisadane dan Ciliwung. Bahkan, pada penelitian yang dilakukan oleh pihak ketiga, ditemukan kandungan bakteri E-coli yang sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut akibat digunakan sebagai septitank oleh warga. Data ini hasil penelitian di Ciliwung Hulu, yaitu di Katulampa, Ciliwung Tengah di sekitar Lapangan Sempur, Ciliwung Hilir di Pasir Jambu, serta Cisadane Hulu di Rancamaya, Cisadane Tengah di Empang, dan Cisadane Ilir di Karya Bakti.

Hasil penelitian itu menyebutkan kadar E-coli Ciliwung Hulu 50 ribu, di Ciliwung Tengah sebesar 40 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 120 ribu. Sementara, di Cisadane Hulu sebesar 18 ribu, Cisadane Tengah sebesar 60 ribu, Cisadane Hilir sebesar 90 ribu. (DDF/KRS)

0 Comments

Silahkan Login untuk Memberi Komentar Anda
clik here    POLLING

Siapa Cawapres Ideal Jokowi.?

Basuki TP. (Ahok)
Mahfud MD
Marsekal TNI Djoko Suyanto
Jenderal TNI Moeldoko
Tri Rismaharini (Risma)
Tidak Tahu

Lihat hasil